Hujan Badai
Rabu, 4 Maret 2026
Hari berjalan seperti biasa.
Sampai siang harinya, temanku menanyakan apakah jadwal buka bersama esok harinya jadi terlaksana atau tidak. Kami semua kompak jawab jadi, akhirnya aku mencoba mengirim pesan whatsapp admin resto untuk reservasi. Mungkin karena ramai, jadi adminnya pun membalas dengan beberapa jeda waktu yang cukup lama. Tapi akhirnay, dibalas juga pesanku. Aku menyempatkan diri di sela-sela pekerjaan untuk.mengatur reservasi
Sore hari, menjelang jam pulang kerja. Admin resto sudah memberikan format reservasi, lengkap dengan daftar menunya. Akhu share ke teman-teman, supaya segera memilih menu untuk bisa aku reservasikan. Yang satu sudah menjawab, satunya lagi belum. Mungkin dia juga lagi hectic dengan pekerjaannya.
Jam setengah lima sore, sebenarnya pekerjaanku sudah selesai. Tapi aku sengaja memunggu balasan pesan dari temanku, barangkali dia segera membalas dan memilih menu—karena aku khawatir, kalau pulang pada saat itu, lalu aku di jalan tidak memeriksa HP, terus telat reservasinya, nanti keburu penuh. Jadi, aku memang sengaja menunggu di kantor. Sambil menunggu, sambil bertukar pesan juga sama mbak novia.
Lalu jam lima sore, tiba tiba hujan angin deras. Padahal di saat itu aku sudah siap siap mau pulang.
Aku terhenti lagi. Aku menunggu kira-kira seperempat jam lagi sampai sekiranya hujan sudah agak reda dan amginnya tidak begitu kencang. Tiba-tiba mati lampu. Di kantor hanya sisa empat orang: aku, bapak manajer, dan dua orang tim sebelah. Aku menunggu sejenak di kantor dalam kondisi mati lampu, sambil ngobrol dengan dua rekan kerja, sambil bertukar kabar di whatsapp dengan temanku yang lain.
Listrik lama tidak menyala. Akhirnya aku dan satu rekan kerjaku siap siap pulang. Katanya: "nanda san, katanya ada pohon tumbang di depannya rumah sakit" (rumah sakitnya kurang lebih berjarak lima menit dari kantor). Aku pun sengaja mengambil jalan pintas—tapi ternyata jalan pintasnya juga macet. Aku kembali berbalik ke arah kantor lagi, mencari jalur yang lebih memutar lagi: klipang - sendangmulyo - elang raya - sambiroto - kedung mundu. (Alhamdulillah di saat itu ada sinyal! Walaupun sudah tahu jalurnya, tapi aku agak bingung belok mana, apakah belok kanan atau kiri?)
Keluar dari sambiroto, tiba di persimpangan swalayan gaya dan pom bensin kedung mundu, azan magrib berbunyi. Suasana gelap, lampu jalan mati. Dan ternyata hampir sepanjang jalan, aku berkendara dengan mengandalkan lampu notor saja, karena hampir di sepanjang perjalanan ke rumah, lampu jalanan mati.
Sepanjang jalan nggak berhenti istigfar dan menyebut apa pun nama Allah dan dzikir yang mampu aku sebutkan.
Baru kali ini, di kotaku tercinta, aku melihat dengan kedua mataku sendiri, kerusakan yang ditimbulkan akibat hujan angin—hujan angin yang sebegitu dahsyat hingga mungkin lebih cocok disebut sebagai badai.
Hampir di semua jalan yang kulalui, kutemui pohon tumbang. Dari pohon besar yang bikin macet karena menutup jalan, sampai pohon kecil yang ditanam di tengah kota, ambruk semua. Nggak hanya pohon, tapi papan penunjuk jalan, papan reklame, baliho pun jatuh, terkulai ke jalanan. Ada yang masih bertahan berdiri, tapi sudah meleyot kehilangan kekuatan. Pun ada papan nama ruko yang ada di pinghir jalan, terhempas angin sebegitu kuatnya hingga jatuh ke jalan.
Lokasinya di kaligarang. Aku cuma bisa memfoto ini karena keberulan lagi berhenti dj lampu merah.
Akibat banyaknya pohon tumbang, aliran listrik terputus, dan sinyal ponsel pun datang-hilang-datang-hilang.
Alhamdulillah aku aman sampai rumah.
Misalkan saja, aku pulang awal di hari itu: tidak terbayang bagaimana aku berkendara naik motor, di jalan, menghadapi hujan badai.
Ternyata aku masih dilindungi sama Allah...

Komentar
Posting Komentar