:)

Aku suka memgamati sekitar, melihat bagaimana orang-orang berjalan, melakukan kegiatan yang ia lakukan, melihat bagaimana dunia ini berputar. 


Kadang kalau dipikir, ternyata di masa SMA aku nggak banyak nongkrong; lebih banyak fokus ke belajar dan diri sendiri—selesai sekolah, pulang, istirahat, dan kembali belajar lagi, sembari menulis, dan juga merenung—was a big blessing. 

Walau kadang sedih, kok aku dulu nggak bisa enjoy the youth sebagaimana teman-temanku ya? Tapi ternyata di balik itu semua, ada banyak hal baik yang bisa dipetik. Di balik kesendirianku di masa SMA, aku banyak melihat dan memperhatikan sekitar, lalu kemudian membuatku banyaaak sekali bersyukur, dan itu saja sudah cukup bisa bikin tenang. 

Galaunya ada sih, sedikit. Tapi semua sudah berlalu. Nikmat Allah itu ternyata jauuuh lebih besar :) 


Dulu, pulang sekolah, aku menggunakan kendaraan umum, karena belum bisa naik motor. Hanya mengandalkan kenadaraan umum. Di saat kelas satu SMA, BRT (bus rapid trans) atau yang lebih dikenal dengan trans semarang, baru ada satu jalur: penggaron-mangkang. Yang langsung ke arah rumahku belum ada. Pada waktu itu, aku naik bus minas, bus kota dengan dua pintu yang tidak ber-AC. Nunggunya di pintu brlakang sekolah, di jalan imam bonjol. Waktu itu, jalan pemuda masih dua jalur, dan pintu gerbang sekolah dibuka di depan (jalan pemuda) dan belakang (jalan imam bonjol). Kadang, bus kota itu lamaaaa sekali lewatnya, atau bahkan ternyata nggak lewat di jalan imam bonjol. Bus yang datang memangtidak tentu; kadang lewat jalan pemuda, kadang lewat jalan imam bonjol. Aku yang tidak sabar menunggu bus yang tidak tentu, jalan kaki dari sekolah sampai pasar bulu (menyeberangi tugu muda). Dan di masa itu, hp yang dipakai masih android 2 (jellybeans? Idk; hpku saat itu samsung galaxy young) dan kuota juga amat terbatassss jadi nggak bisa mengisi waktu nunggu bus yang datang dengan main hp. Mau tidak mau, aku jadi lebih bisa melihat dan mengamati sekitar. Para pengendara motor dan mobil yang berlalu-lalang, halte lawas di jalan pemuda, lalu kalau sudah di dalam bus, makin melihat banyak orang lagi: ibu-ibu yang habis dari pasar, para pelajar yang sama denganku tapi pakai seragam.sekolah lain, bapak-bapak perokok, ibu-ibu yang menggendong anak kecil... Dengan orang sebanyak ini, sama-sama manusia yang menjalani kehidupan, berbeda usia, berbeda kisah hidup juga. Nggak jarang, waktu aku dapat tempat duduk, akhirnya kadi diajak ngobrol sama orang duduk sebelahan. Kadang hanya basa-basi nanya sekolah di mana, turun di mana, kadang aku sampai jadi telinga buat orang itu yang sedang menceritakan masalah hidupnya; atau bahkan sebaliknya, sedang menceritakan putranya yang membanggakan. 


Jika dipikir kembali, dunia sebelum era digital ternyata lebih hangat. Bayangkan jika di zaman sekarang, seseorang yang sedang di tempat umum, sendirian, entah itu di dalam bus kah, atau di ruang tunggu, mereka semua sibuk dengan ponselnya masing-masing. Menghabiskan waktu bosan menunggu sesuatu dengan melihat ponsel. Wajar saja kalau dulu zaman orang tua kita menceritakan bagaimana mereka bertemu lalu menikah; sebagian besar menjawab dengan cerita bahwa mereka bertemu di suatu tempat, ngobrol, lalu jadi kenalan, lalu jadj pasangan hidup. Zaman sekarang banyak yang memceritakan kalau ketemunya di dating apps, atau taaruf online. Pertemuan yang tidak disengaja—di halte, di ruang tunggu kantor pos, di bank, atau semacamnya—sudah minim terjadi karena orang sibuk dengan dunia yang ada di genggamannya. 


Kemudian waktu kelas 3 SMA, jalur trans semarang yang mengarah ke rumahku sudah ada. Jalur yang baru dibuka, dan unit busnya masih amat jarang—jadi waktu tunggu hingga busnya datang, sangat lama. Jarak 30 menit yang biasa ditempuh dengan motor, kalau naik bus, bisa jadi satu setengah jam. 


Kok bisa ya dulu aku sabar menunggu dan berdesakan 😅 (the adult me is wondering) 

Tapi ya begitu, 
Waktu tunggu di halte memanjang, tapi aku jadi bisa memperhatikan sekitar lebih lama. Dan kalau memperhatikan sekitar, ras syukur kita semakin bertambah. Hariku memang berat, tapi ternyata di luar sana, ada banyak orang yang perjuangannya jauh lebih hebat daripada aku, dan mereka tidak mengeluh. 


:) 

Another thing when I observe people, 
Kadang kalau mau memperhatikan lebih detail, kita jadi bisa membedakan, mana orang yang baik, mana yang bukan. Mana orang yang hatinya tulus, mana yang bukan. 


Dulu aku dengan mudah bisa membedakannya. And it's such a big blessing. 


Namun ketika usiaku semakin bertambah, hal itu perlahan jadi samar. Di usiaku yang sekarang, kadang kebaikan kecil menimbulkan pertanyaan: kenapa dia melakukan ini? Dia mau apa dari aku? 


Aku jadi lebih banyak meragukan. Mungkin, ini bagian dari pertahanan diri, karena aku sudah banyak melihat bagaimana seseorang bisa saja melakukan kebaikan, namun juga melakukan keburukan, entah di saat yang bersamaan atau tidak. Bagaimanapun, kita ini manusia—kita bisa berubah dari baik ke buruk, atau sebaliknya dari buruk ke baik, entah disengaja atau tidak, dikarenakan ada suatu hal yang mentriggernya. 


Selain aku yang semakin samar untuk bisa membedakan manakah kebaikan yang tulus ataupun tidak, mungkin orang di sekitarku—orang-orang dewasa di sekitarku—tidak banyak yang tulus ikhlas memberikan kebaikan, karena di usia segini yang sudah paham bagaimana kehidupan dunia ini berjalan, ternyata kita ini semakin perhitungan. Buat apa membantu, memberikan effort sebegitunya kalau nggak ada manfaatnya buatku? 


Tapi bagaimanapun, 
Kebaikan tetaplah kebaikan. 


Walaupun jarang ditemui, tapi kebaikan itu masih tetap ada. Dan aku masih mengingatnya. 


Aku ingat bagaimana waktu dulu aku merasakan sakit perut karena kram menstruasi yang saaakitnya luar biasa sampai rasanya mau pingsan, pada waktu itu pagi hari di kantor, aku habis membriefing beberapa siswa di kantor bagian belakang, selesai briefing, siswa bubar dan aku masih di posisi yang sama, terduduk, lemas, sambil mengirim pesan ke grup timku: perutku sakit, lagi mens, rasanya kayak mau pingsan. 


Nggak lama dari aku mengirim pesan, dua seniorku datang menghampiriku dengan langkah cepat dan muka panik. Aku langsung dituntun kembali ke dalam kantor, ditawarin obat, lalu disuruh istirahat dulu di sofa kantor. 


🥹💖


Terima kasih banyak...


Salah satu hal yang aku sangaaat syukuri adalah bahwa aku masih dikelilingi orang-orang baik. 
Mungkin ini terlihat sangat sederhana, tapi aku sangat menghargai hal itu, karena aku tahu, hal sederhana ini, ternyata nggak semua orang diberikan kenikmatan oleh Allah seperti ini... ada banyak kantor di luaran sana yang lingkungannya tidak sebaik itu. 

:") 


Before the post become so long, I'll end the story for this. 

Mungkin akan bercerita lagi, mungkin juga tidak, mungkin akan aku hapus, mungkin juga tidak. Entahlah, sesuai mood, sesuka aku pokoknya haha :D 

Anyway, aku kadang amazed ini blog masih ada yang membaca. Terima kasih, dan juga... dari semua cerita yang aku tulis di sini, ambil hal positifnya saja ya kawan ^^ 


Thank you, as always. 

Komentar