Readlog: Namaku Hiroko
Waktu kecil, aku dilarang baca buku ini wkwk :D
Dulu, aku suka baca komik doraemon. Setelah itu, aku mulai tertarik semua hal tentang Jepang. Buku ini punya kakakku, waktu aku melihat ada novel yang ada unsur jepangnya: Hiroko, aku jadi ingin baca (tanpa tahu isi ceritanya tentang apa), dan sempat membuka buku ini dari rak buku. Ketahuan sama kakak dan bapak, lalu bapak dengan jelas melarang. Sampai akhirnya buku ini disembunyikan. 🤣
Dan ternyata bukunya memang ratingnya dewasa. Baguslah, bapak dan kakak memyelamatkanku dari bacaan yang belum waktunya ^^;
Diksi dalam buku ini tidak separah Cantik itu Luka, tapi tetap saja, isinya eksplisit; dan jika kamu adalah seseorang yang secara moral tidak bisa menerima hal-hal yang berkaitan dengan perzinaan, jangan membaca ini, karena sangat jauh sekali dengan nilai-nilai moral.
Membacanya agak disturbing; tapi di sisi lain, ada rasa kasihan, sekaligus: kita nggak bisa menilai seseorang hanya dari satu sisi saja.
Anyway, ini bukunya:
Novel ini menceritakan tentang seorang gadis desa yang bekerja di kota. Awalnya dia bekerja sebagai asisten rumah tangga, lalu karena tifak tahan dengan majikannya, dia pindah kerja menjadi pelayan toko sebuah produk wanita: fashion, makeup, dan skincare, yang kemudiam membawanya kepada pekerjaan sampingan di dunia malam: menjadi penari striptease di kabaret.
Novel ini intinya...
Intinya kacamata
Dari satu scene ke scene lain, yang dibahas adalah lelaki, lelaki, dan lelaki.
Hiroko mengalami berbagai pengalaman berhubungan dengan berbagai lelaki, dari anak majikan, majikannya sendiri, pelajar dari Indonesia, hingga akhirnya, tambatan hatinya berakhir pada seorang lelaki suami temannya sendiri 😌 kondisi temannya itu depresi dan suicidal sampai masuk RS Jiwa. Terus tahu nggak Hiroko menganggap apa? Dia merasa tidak merebut lelaki siapa pun, toh lelaki itu duluan yang menghendakinya. bangsat, bukan?
Selama membaca ini, yang aku simpulkan adalah: cobaan lelaki adalah wanita, sedangkan cobaan wanita adalah harta.
Sudah ah reviewnya, this kind of book is not my up of tea :D
Tapi bukan berarti saya ndak menghargai penulisnya, lha kan beliau salah satu sastrawan top di Indonesia ^^

Komentar
Posting Komentar