Postingan

Heran

Dulu waktu aku masih menjadi pengajar di kelas, ini anak-anak pada gak ada takut takutnya sama aku. Aku nyerocos di depan, teriak sekuat tenaga, mengerahkan segenap tenaga, aku yang introver ini, di depan kelas... mereka gak mau ngedengerin. Ngoceh sendiri, main game, turu.  Ya Allah 😂😂  Pada saat itulah aku ngerasa, ok aku gak bisa nih jadi guru. I can not even draw their attention, gimana caranya mau transfer ilmu kalo mereka aja bahkan gak mau dengerin?  Dan herannya, dalam keadaan kayak gitu, dulu aku gak bisa marah.  Tapi ketika sekarang aku di kantor, ya anggaplah fungsiku kurang lebih sama kayak TU kalau di sekolah... ini anak-anak kok kalau menghadap aku pada kicep? 😂 Kayal, mereka bingung mau gimana, ditanya apa diem aja, ditanya apa ngejawab yang lain. tapi ngejawabnya tuh arahnya kayak bikin alesan. Misal: "kamu kenapa belum ngumpulin? Kan sebelumnya udah dikasih tau paling lambat tanggal segini" mereka jawab "iya sensei, minggu depan mau mengumpulkan"...

:)

Aku suka memgamati sekitar, melihat bagaimana orang-orang berjalan, melakukan kegiatan yang ia lakukan, melihat bagaimana dunia ini berputar.  Kadang kalau dipikir, ternyata di masa SMA aku nggak banyak nongkrong; lebih banyak fokus ke belajar dan diri sendiri—selesai sekolah, pulang, istirahat, dan kembali belajar lagi, sembari menulis, dan juga merenung—was a big blessing.  Walau kadang sedih, kok aku dulu nggak bisa enjoy the youth sebagaimana teman-temanku ya? Tapi ternyata di balik itu semua, ada banyak hal baik yang bisa dipetik. Di balik kesendirianku di masa SMA, aku banyak melihat dan memperhatikan sekitar, lalu kemudian membuatku banyaaak sekali bersyukur, dan itu saja sudah cukup bisa bikin tenang.  Galaunya ada sih, sedikit. Tapi semua sudah berlalu. Nikmat Allah itu ternyata jauuuh lebih besar :)  Dulu, pulang sekolah, aku menggunakan kendaraan umum, karena belum bisa naik motor. Hanya mengandalkan kenadaraan umum. Di saat kelas satu SMA, BRT (bus rapid ...

Hujan Badai

Gambar
Rabu, 4 Maret 2026  Hari berjalan seperti biasa.  Sampai siang harinya, temanku menanyakan apakah jadwal buka bersama esok harinya jadi terlaksana atau tidak. Kami semua kompak jawab jadi, akhirnya aku mencoba mengirim pesan whatsapp admin resto untuk reservasi. Mungkin karena ramai, jadi adminnya pun membalas dengan beberapa jeda waktu yang cukup lama. Tapi akhirnay, dibalas juga pesanku. Aku menyempatkan diri di sela-sela pekerjaan untuk.mengatur reservasi Sore hari, menjelang jam pulang kerja. Admin resto sudah memberikan format reservasi, lengkap dengan daftar menunya. Akhu share ke teman-teman, supaya segera memilih menu untuk bisa aku reservasikan. Yang satu sudah menjawab, satunya lagi belum. Mungkin dia juga lagi hectic dengan pekerjaannya.  Jam setengah lima sore, sebenarnya pekerjaanku sudah selesai. Tapi aku sengaja memunggu balasan pesan dari temanku, barangkali dia segera membalas dan memilih menu—karena aku khawatir, kalau pulang pada saat itu, lalu aku di j...

Readlog: Namaku Hiroko

Gambar
Waktu kecil, aku dilarang baca buku ini wkwk :D  Dulu, aku suka baca komik doraemon. Setelah itu, aku mulai tertarik semua hal tentang Jepang. Buku ini punya kakakku, waktu aku melihat ada novel yang ada unsur jepangnya: Hiroko , aku jadi ingin baca (tanpa tahu isi ceritanya tentang apa), dan sempat membuka buku ini dari rak buku. Ketahuan sama kakak dan bapak, lalu bapak dengan jelas melarang. Sampai akhirnya buku ini disembunyikan. 🤣 Dan ternyata bukunya memang ratingnya dewasa. Baguslah, bapak dan kakak memyelamatkanku dari bacaan yang belum waktunya ^^; Diksi dalam buku ini tidak separah Cantik itu Luka, tapi tetap saja, isinya eksplisit; dan jika kamu adalah seseorang yang secara moral tidak bisa menerima hal-hal yang berkaitan dengan perzinaan, jangan membaca ini, karena sangat jauh sekali dengan nilai-nilai moral.  Membacanya agak disturbing; tapi di sisi lain, ada rasa kasihan, sekaligus: kita nggak bisa menilai seseorang hanya dari satu sisi saja.  Anyway, ini b...

Readlog: I Want to Eat Your Pancreas

Gambar
Novel ini menceritakan tentang seorang anak sekolah perempuan bernama Yamauchi Sakura yang memiliki penyakit pankreas sejak kecil. Pankreasnya tidak normal—karena itu, dia hidup dengan kesadaram bahwa dia bisa mati kapan saja karena penyakitnya; bahwa mungkin saja usianya di dunia ini tak lama lagi.  Namun alih-alih bersedih, dia selalu menampakkan sikap yang ceria seolah tidak terjadi apa-apa dan seolah ia tidak sedang memiliki penyakit mematikan. Dia bahkan merahasiakan penyakitnya kepada seluruh teman sekolahnya, termasuk teman dekatnya sendiri, Kyoko. Kecuali... Shiga Haruki. Teman sekelasnya yang cukup kuper dan sangat pendiam bahkan tidak punya teman. Kerahasiaan yang terungkap ini bukan karena disengaja, namun karena ketidaksengajaan Shiga Haruki menemukan buku "memoir" milik Sakura.  Di bangku rumah sakit, Haruki menemukan sebuah buku berjudul "Living With Dying", yang ternyata adalah sebuah buku kecil serupa novel, yang isinya ditulis tangan sendiri oleh pe...