Diskursus luka dan kenangan masa kecil
Siang tadi, di pantry kantor. Aku berlima makan siang bareng. Sebenarmya sudah jadi rutinitas harian sih—tapi kadang aku makan di meja kerjaku, sambil nonton youtube. Kadang join sama mereka. Hari ini aku makan di pantry, sambil ngobrol sama teman-teman. Kali ini suasananya berbeda, karena salah satu teman kerjaku habis kecelakaan, jatuh dari motor. Rumahnya di ungaran (dekat salatiga), jadi dia mengekos di dekat kantor. Jumat minggu lalu, dia pulang ke rumah, dijemput, dan membonceng. Ceritanya mau belok menghindari mobil yang mau outar balik, tapi mungkin karena menghindari mobil itu, dia ga bisa jaga keseimbangan, dan akhirnya jatuh. Kecelakaan tunggal, karena gak nabrak apa-apa, tapi jatuh dan motornya terseret beberapa meter. Hari senin hingga rabu dia izin tidak masuk, dan baru hari ini kembali bekerja, dengan lutut yang masih ada bekas luka dan area di sekitar lutut yang memar dan sedikit bengkak. Memarnya bukan memar warna ungu, tapi memar yang warna kukitnya jadi putih dan memucat—kata dokter, memarnya cukup dalam, jadi bukannya warna ungu, yang muncul di kukit warnanya putih pucat. Memar biasanya warna ungu, tapi ini tidak, dan dia overthinking habis-habisan, padahal dokter sudah bilang kalau itu tidak apa-apa.
"Aku takut kalau ternyata ada sendi yang mlengse... atau jangan-jangan retak?"
Dibantah kuat sama temanku yang lain, "kalo sampe gitu kamu gak mungkin bisa jalan!"
"Kamu searching di google kayak apa sih mbaak???" π«π« (ada yang heran)
Wkwkw
Lalu obrolan berlanjut, sampai ke pembahasan sherina dan plester luka: bahwa di awal tahun dua ribuan, gara-gara film sherina—atau mungkin juga bukan—dulu, nempel plester (hansaplast dan sejenisnya) itu dianggap keren. Kami berlima, tiga di antaranya terlahir di tahun fosil—1994, 1995, 1997—sedangkan dua lainnya, kelahiran tahun 2001 dan 2002. Film petualangan sherina tayang, mereka masih merangkak. Aku sudah umur 5 tahun, masih TK. Tapi sampai aku SD, filmnya sering diputar di TV. Dua temanku kelahiran dua ribu itu, tidak relate dengan tren pemakaian plester luka itu ^^
Aku ada di tengah persis, aku emang engga ngikutin tren, tapi aku cukup tau. Walaupun begitu, nggak perlu sampai "waaah aku luka, aku mau pake plester luka biar keren!", aku sudah cukup banyak luka. Motorikn't sejak dini π
Dua temanku bilang, dulu cuma kena luka gores di tangan dan akhirnya harus pakai olester, dia senangnya gak karuan. Malah katanya sampai beli hansaplast, walau gak digunakan—belinya yang motif lucu. Beli aja, cuma buat koleksi, walaupun gak dipakai.
Aku, dulu, gampang jatuh.
Kesandung, kecengklak, kepleset, keplarak, kejengklang, kejrungup—you name it lah, semua jenis cara jatuh kayaknya pernah aku rasain π (it's not an achievemen tho, and i am not so proud)
Dulu saking seringnya jatuh, luka lama belum sembuh, sudah ketambahan luka yang lain. Paling sering luka di lutut. Dulu bekasnya menghitam, nggak bisa hilang. Lukanya membekas. Sembuh, tapi nggak bisa sepenuhnya hilang. Dulu taunya hanya diobatin pakai obat merah (betadine). Kalau lukanya kecil, bisa dipakaiin hansaplast yang ukurannya kecil. Kalau lukanya besar, biasanya hanya dibiarkan saja setelah dikasih betadine, nggak ditutup plester luka atau kasa, karena biar lukanya nggak lembap dan mencegah iritasi juga. Kalau mau ditutup kasa atau plester luka, harus rajin ganti. Dan aku gak suka, karena itu hansaplasnya saaaakit banget kalo dilepas ππ ibu juga bukan orang kesehatan, dulu juga kayaknya produk untuk merawat luka nggak sampai ke orang awam. Aku baru tahu pas udah dewasa kalau ternyata ada salep hansaplast yang bis untuk luka, supaya lukanya cepat sembuh dan nggak meninggalkan bekas. Termasuk bisa juga untuk merawat bekas luka yang menghitam, jadi lututku sekarang udah ngga separah dulu bekas lukanya.
Mengenai luka,
Luka fisik bisa sembuh, namun kadang sisanya membekas di kulit.
Begitu pula dengan luka batin. Bisa sembuh, tapi kadang membekas, dan mungkin bisa terbuka kalau ada triggernya.
Aku yang pelupa ini, kadang bikin repot sama diri sendiri karena pekerjaan kemarin pun kadang aku nggak ingat, jadi kalau ditanya siapa pun sama teman kerja, sering sekali butuh waktu untuk memgingatnya, atau butuh waktu untuk cari data dulu di komputer baru bisa menjawab pertanyaannya.
Tapi di sisi lain, sisi pelupa ini bisa juga jadi berkah: aku juga mudah melupakan hal-hal detil tentang yang pernah melukai hatiku.
Aku ingat dulu aku pernah dimarahi klien sampai aku menangis semalam, tapi aku sudah lupa kenapa, apa, dan bagaimana bisa. Aku cuma ingat bagian aku menangis, tapi lupa kenapa aku bisa sampai menangis.
Aku nggak lupa, hanya kadang lupa hal mendetilnya. lupa hal detil itulah yang membuatku melupakan luka yang pernah ada.
Alhamdulillah....
:)
Iya di gitu aja dulu hari ini
Komentar
Posting Komentar