Aku masih ingat momen waktu kuliah kurang lebih 10 tahun lalu, di pelajaran kaiwa (conversation), membicarakan tentang kehidupan.

 Pelajarannya kayak main games ular tangga, di mana ketika gacuknya tiba di angka tertentu, kami membicarakan kehidupan di usia itu. Tibalah giliranku, aku tiba di angka 30. Di saat itu, usiaku 20an. Aku bilang (dalam bahasa jepang, karena memang inilah tujuannya: conversation dalam bahasa jepang), di usia ini, aku menikah. Karena menurutku usia 30 adalah usia yang ideal: ekonomi dan emosi mulai stabil. 


Tahu tidak, respon teman-temanku cukup bikin aku syok, karena ternyata nggak semua orang berpikir hal yang sama denganku. Dan yang paling kaget adalah respon: "JANGAAAN!" Cukup lantang, seolah pendapatku adalah hal yang amat sangat bertentangan dan hal yang aku ungkapkan adalah hal yang buruk. 


Tapi ya kembali lagi, hidup masing-masing orang memang berbeda; pilihan hidup, kisah hidup, perjalanannya seperti apa, persimpangan keputusan hidup seperti apa, semuanya berbeda. Aku maklum, walaupun cukup kaget saat itu, dan aku malah mempertanyakan diriku sendiri: memangnya, salah ya? 


But anyway, 

Menikah itu bukan hal yang sepele. 

Itu adalah pilihan dan keputusan besar dalam hidup. Tanggung jawabnya besar. 


Targetku waktu itu: menikah usia 30 

Sekarang usiaku: 29 



Harusnya kalo memang sesuai rencana, menikah usia 30... paling nggak di usia sekarang... harus ada calonnya dulu gak sih... kenalan, kenalan sama keluarga, mencocokkan visi misi, persiapan menikah, kayaknya 1 tahun cukup--


Tapi ini gimana yaaaaa, kosong adalah isi, isi adalah kosong.... satu tambah satu sama dengan.... wkwkwk 


^^; 



Sama halnya sepuluh tahun lalu (yang aku dibantah kalo kepengennya menikah usia 30), di usia sekarang pun tekanan sosialnya ada banget. Duh, mana bentar lagi lebaran........... gak siap aku.......... 


Yaudahlah, gakpapa. 

Aku masih ada Allah. 

Ada Allah. 


Tenang, ada Allah. 

Komentar