Waktu SMA dulu, aku pernah menangis, karena diriku yang seperti ini. Karema aku nggak menerima diriku sendiri. Karena aku struggle di society—society level anak sekolah SMA.
Aku pendiam, banyak diamnya. Kaku, nggak ekspresif, komunikasinya formal, risih sama tren anak muda.
Yang bikin nangis itu, ada guru sosiologi. Beliau baik, sih, baikkkk banget, tapi beliau yang mentrigger aku menangis. Karena di kelas, beliau bilang, lebih suka sama yang siswa cerewet daripada yang pendiam. That was harmless, i know. Preferensi orang memang masih-masing, tetapi ketika itu disampaikan di dalam kelas, sebagai seorang guru, di depan murid, aku merasa gak adil. Karena jelas ada perbedaan "suka/tidak suka" dan dinyatakan secara gamblang sekali. Terlebih lagi beliau guru sosiologi. Aku yang saat itu lagi bertumbuh, labil, emosional, mengkhawatirkan banyak hal, akhirnya nangis. Sedih, dan khawatir. How i'm gonna survive in this society while i am like this?
Waktu di rumah aku nangis, bapak ibukku tau, dan waktu itu yang menenangkan bapakku.
Bapak cerita kalau di tempat kerjanya ada yang banyak diam, tapi hasil.kerjamya bagus. Semua punya kelebihan dan kekurangan, jadi pendiam itu juga punya kekuatan di hal lain. Jadi gak apa-apa.
Aku sedikit tenang waktu itu.
Tapi aku nggak bisa mengubah bagaimana society berjalan.
Aku masih struggle sampai sekarang.
Lelah banget bermasyarakat, lelah pakai topeng, lelah lah pokonya. Capek wkwkwkwkwkwkwkwkwk capekkkkkkk
Hadeh
Dunia memang isinya capek terus, nggak capeknya nanti kalo udah di jannah, itupun kalo memang dirahmati Allah buat ke sana.
Kalau engga, gimana.... (takut bgt loh)
Komentar
Posting Komentar