Topeng

 Waktu kecil, aku takut sama topeng. 

Iya, topeng, secara harfiah. Topeng ala jawa, dan juga hal-hal sejenisnya: wajah yang membentuk sosok dengan muka yang waktu itu, waktu aku kecil, aku anggap seram. Aku juga takut sama patung


Kayaknya usiaku waktu itu tiga tahun. Saat itu lagi ada acara arisan keluarga (acara kumpul keluarga dua bulan sekali buat ngaji yasin tahlil dan silaturahmi keluarga besar), di rumah pakdheku, kakak ibu nomor dua. Beliau itu seniman (orang Jepara, seniman ukir dan lukisan). Di depan rumah beliau, ada topeng ala jawa yang dipasang di dinding luar rumah. Aku ingat, tapi agak samar. 


Selama acara, aku nangis gak berhenti-berhenti. Waktu diajak ibuku jalan ke luar, menjauh, aku diam, tangisanku berhenti. Tapi waktu diajak kembali lagi ke rumah pakdhe, aku nangis lagi. Akhirnya ibu ngajak ke luar, nunggu sampai acara selesai di luar. Wujud topengnya... gimana ya, aku searching di google kok ndak ada yang mirip πŸ˜… topengnya warna abu-abu (kayaknya catnya luntur karena ditaruh di luar rumah, kena matahari), ada rambutnya, bertanduk. 


Kayaknya sampai smp-sma, rasa takut sama topengnya masih ada πŸ˜… pas udah gede... lebih takut sama topeng tak kasat matanya manusoa sih (eh)


Selain takut sama topeng, aku juga takut sama semua jenis patung yang berwujud makhluk hidup. Kayak patung selamat datang (patung kembar) yang umumnya ada di pintu masuk di suatu tempat... dan sejenis itu. 


Waktu ke borobudur (kayaknya aku juga masih unur 3 tahun) sama keluarga dan keluarga pakdhe (kakak ibu yang ke-6), ada foto kakakku sama sepupuku foto di atas patung singa. Kalo yang ini aku tidak ingat, tapi pas buka album foto, ibu cerita: "kamu tu nggak mau foto di situ" 


Begitulah, cerita random hari ini 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hehe ☺️πŸ‘‰πŸ‘ˆ

2 Days Prambanan Trip

I'm crying...