:)
Dulu, aku ingat salah satu temanku pernah bilang, aku sangat kaku dan dingin, dan juga menyebalkan.
Lalu aku bertanya ke getta, benarkah begitu? (Soalnya abis dibilangin gitu, kaget, sedih, terus kepikiran buanget)
Getta bilang: kamu nggak se-kaku itu. Kalau yang sudah berteman lama pasti tahu kamu seperti apa. Aslinya kamu juga orangnya ceria kok.
Tapi yah aku mengakui kalau aku ini dry text, parah! PAAARRAHHH BANGET DRY TEXT NYA.
Waktu SMA, temanku juga bilang: kamu nih terlalu formal. Aku pada waktu itu hanya menjadi diriku sendiri (mode survival) wkwk karena ngga terlalu nyaman, jadinya bersikap sopan dan formal dan kaku. Hehe. (Sama kayaknya sedang banyak pikiran, terlalu fokus sama diri sendiri, pikiran berkelebat mencoba memecahkan masalah yang ada)
Thus I learn.
Ternyata pesan melalui whatsapp, atau chat di aplikasi manapun, adalah perpanjangan dari komunikasi lisan. Bedanya cuman nggak ketemu dan nggak secara verbal aja. Dan ternyata, text yang dikirim itu walaupun hanya sebuah tulisan, ternyata dia punya suara. 😂
"Iyaaaaa"
"Iya."
Sounds different. Padahal intinya sama kan? Mengiyakan sesuatu? Dan bahasa indonesia yang baik dan benar kan nggak menambahkan huruf vokal? (Aku dulu heran, dan aku menulis pesan ya yang pendek di bawah, nggak memanjangkan huruf vokal). Ternyata yang memanjangkan huruf vokal terdengar ramah, dan yang menulis biasa, terdengar dingin dan kurang ramah serta kurang welcome. Dulu aku nggak bisa membedakan itu. Dan memakai emoticon ini 🥰💖❤️ (pokoknya segala bentuk love, terasa sangat cringe)
Lalu setelah itu covid, di mana hampir semua aspek memakai komunikasi digital. Lalu aku juga bertemu teman online, di sinilah aku juga belajar. Oh, jadi begini ya caranya ngobrol sama orang?
Aku juga kadang sulit mengungkapkan atau mengekspresikan sesuatu melalui kata-kata. (Sebagai gantinya.... my face speaks it all)
Lalu aku juga belajar.
Aku mulai belajar menghargai kehadiran orang-orang yang ada di sekitarku.
Dulu, aku berpikir kalau orang-orang yang ada di sekelilingku adalah hal yang sudah mesti ada. Ternyata mereka adalah rejeki luar biasa yang dikaruniai Allah terhadapku: teman yang baik, yang mau men-support dirimu kalau lagi sedih, marah, kecewa. Yang mau mendengarkanmu dan mengerti dirimu, bahkan ketika kamu tidak sedang bercerita kepadanya. Semua itu bukan hadir dengan sendirinya, tapi karena rejeki dari Allah. Semakin bertambah usia, semakin paham, karena ternyata tidak semua orang punya teman yang tulus, jumlah pertemanan yang tulus semakin mengecil... aku mencoba buat mengekspresikan rasa terima kasihku itu. Mengucapkan terima kasih, bukan hal yang bikin malu. (Saya dan bapak sama persis, tsundere parah)
I try to express myself more.
Dan juga mencoba untuk bisa lebih berkomunikasi yang baik.
Apa mauku? Kenapa aku marah? Ada masalah seperti ini, lalu keduanya mengkomunikasikan baiknya seperti apa. Dan nggak gengsi buat minta maaf. Hal yang seperti ini itu hal yang berat buatku. Mungkin karena inilah, banyak orang yang sakit hati dengan perilaku diriku yang seperti ini. Aku merasa bersalah dan ingin minta maaf.
Pada dasarnya aku tidak suka ribet dan tidak menyukai konflik, jadi kalau ada hal yang tidak mengenakkan, aku lebih memilih menghindar. Dulu aku kira dengan itu maka selesai. Padahal aku hanya meninggalkan lawan bicara tanpa dia bisa mengerti aku kenapa dan aku tidak memberi ruang lawan bicara untuk memberikan penjelasan. Kalau dipikir, ini sangat egois, dan pantas saja... temanku dulu juga bilang: kamu itu menyebalkan.
Padahal seharusnya kalau ada problem ya dibicarakan, dikomunikasikan.
Bodoh sekali diriku, hal yang sederhana seperti ini saja butuh waktu lama untuk bisa memahaminya.
Tapi ya aku nggak menyalahkan diriku di masa lalu seratus persen, karena aku sendiri tahu apa problem yang sedang dihadapi kala itu dan alasan-alasan kenapa dulu aku seperti itu.
Pada akhirnya, semua yang sudah terjadi, adalah supaya kita belajar.
Seiring berjalan waktu dan semua yang terjadi, ternyata semua itu adalah proses perkembangan diri untuk bisa menjadi lebih baik lagi.
Dan yang dihadapi setiap orang itu berbeda-beda. Mungkin, bagiku komunikasi ketika ada koflik atau problem adalah hal yang sulit, tapi bagi orang lain bisa jadi itu adalah hal yang termudah yang bisa dia lakukan.
This is what I learned, for years, dan mungkin ke depannya juga masih akan terus belajar.
:)
Komentar
Posting Komentar