소중한 동료



(Matanya bemgkak)

Foto ini diambil ketika acara akhir tahun sudah selesai;  para staf kumpul dan nyanyi kemesraan, habis itu, satu per satu staf pamitan sama orang yang ada di foto sebelah kiri, karena dia resign dan hari itu adalah hari terakhirnya bekerja. Aku sudah dikasih tau dan aku sudah tau hal itu sejak bulan juni tahun lalu, tapi beneran waktu ngeliat perpisahan dengan mataku sendiri, duh, air mata ngalir terus gak bisa dibendung. Beneran gak bisa dihentiin, kayaknya lama banget deh aku nangisnya, sampe dilihatin semua orang 😅

Bapak kepala kantor sampe gak mau ngelihatin aku, karena kayaknya beliau juga berusaha kuat menahan nangis 😂 pak manajer sesekali aor matanya juga jatuh, sedangkan putri direktur, berusaha menghibur dengan beberapa candaan (putri direkturnya seumuran denganku, jadi kadang kadang emang suka ngobrol dan becanda) 

 
Foto yang ini, diambil di acara pernikahannya staf kantor, dua minggu setelah acara akhir tahun. Mbak ini sudah resign dan pulang ke batang, tapi menyempatkan untuk hadir di acara pernikahan temen satu kantor. Yang kali ini aku gak menangisss karena bukan cara perpisahan dan vibes nya sangat happy 😄


Waktu acara akhir tahun itu, kayaknya aku menangis karena mixed feelings: rasa terima kasih, haru, dan juga harus berpisah dengan teman. 


Banyak yang bilang kalau teman di tempat kerja ya sekedar rekan kerja saja; tapi aku dikasih rejeki berupa teman yang tidak hanya teman kerja, tapi juga seorang teman yang mendengarkan aku ketika sedih, dan juga ikut senang kalau aku senang; begitu pula sebaliknya. 


Aku jadi saksi waktu pertama kali mbak menangis waktu awal masuk kantor—bukan di kantor, tapi di musholla, karena konflik sama rekan kerja. Dan aku juga bukan tipe yang mau nangis di tempat umum. Yaudah diem aja, nangisnya nanti di jalan atau di rumah. Tapi waktu itu pernah ada momen ketika beban kerja yang dipikul.lagi berat-beratnya, sudah gitu masih dimaki-maki pula, dan harus minta maaf atas kesalahan yang bahkan tidak aku perbuat. Dia yang memelukku dan menenangkanku. Rasanya kayak dikuatkan, kayak aku punya tempat bersandar, bahwa kehidupan kerja nggak seburuk itu, selama ada dia. 



Yah, pokoknya banyak lah hal yang bikin saku merasa sangat berterima kasih. 


Dan di saat yang bersamaan, ada rasa takut dan khawatir: ke depannya, bagaimana bisa aku menghadapi semua badai itu? 


Kemarin aku sampai bilang ke ketua timku: suatu saat nanti, kalau aku sudah muak, nggak bisa toleransi dan bagaimanapun nggak bisa berkompromi, mungkin aku akan resign. Kalau waktu itu datang, tolong jangan ditahan. 



....karena saat ini pun aku sedang berusaha sekuat tenaga unruk menahan diri



Aku nggak tahu ke depannya akan gimana. Aku nggak berharap aku kuat, karena aku sudah tau aku sangat rapuh dan lemah. 


Aku harap... ke mana pun aku melangkah, di mana pun aku bekerja, entah di bidang apa pun, aku selalu dipertemukan dengan orang baik, di lingkungan yang baik juga. 



Komentar