Late night post cause I cant sleep and havent sleep yet
Barusan aku menonton video-video tiktok yang menunjukkan sekolahku waktu SMA. Tiba-tiba memori pada masa itu bermunculan.
Dulu waktu sekolah, mulai kelas 2 sampai lulus, rasanya sekolah tuh kayak gak ada bahagianya, yang terpikirkan saat itu: Ya Allah ini kapan ya lulusnya? (Sambil nangis)
Waktu itu, awal dirintis kurikulum 2013, peralihan dari kurikulum KTSP (tapi belum diresmikan—terus sekolahku kayak jadi percontohan dulu alaias jadi kelinci percobaan). We're a little bit ahead than the other schools at that time. Bahkan temanku waktu aku ceritakan semacam a day in my life versi anak sekolah SMA 3, dia bilang,"nan, aku gak mudeng blas sekolahmu itu gimana" wkwk well so do I?
Sebenernya nggak cuma percobaan kurikulum 2013 aja, tapi juga: percobaan sekolah bertaraf internasional. Jadi di masa itu, sekolah negeri tuh kayak ada strata standar mutunya: SSN (sekolah standar nasional), SBI (sekolah bertaraf internasional), lalu ada yang di tengah-tengahnya, bukan SSN tapi juga belum SBI: RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional)—ini kayak sekolah yang lagi peralihan standar nasional ke standar internasional. Lagian kenapa sih dibedain gitu? Supaya katanya, siswa di sekolah negeri yang standar SBI ini bisa ikut bersaing di global.
Waktu awal aku masuk, kelas 1 SMA, sekolahku statusnya sudah SBI. Waktu mau masuk, tesnya banyak banget, berlapis. :) dulu tuh kayak, hadehh ni beneran bisa masuk ga sih? (Dah pesimis) tapi harapanku dan harapan orang tua sangat besar. Kakakku alumni situ, dan siapa sih yang tidak berharap bisa sekolah di sekolahan yang prestise? Pada saat itu, aku cuma berpikir: SMA 3 nih sekolah yang kualitasnya bagus, lingkungannya baik (i mean—usia remaja SMA tuh usia rawan kenakalan remaja, salah pergaulan dikit, masa depan bisa hancur. At least, dengan image yang "sekolahan yang isinya belajar terus" ini, aku nggak akan khawatir sama "salah pergaulan", lha ya gimana mau salah pergaulan, isinya aja anak anak yang suka belajar dan sangat concern sama masa depan :) harapanku besar, orang tua juga. Tesnya berlapis. Seleksinya diambil dari nilai ujian nasional, nilai ujian masuk, nilai psikotes, dan nilai wawancara. Aku unggul di tes bahasa inggris (karena aku suka bahasa), psikotesnya juga bagus. Aku berhasil lolos di saringan satu angkatan 400 orang, dari sejumlah 1200 orang yang mendaftar. (Hehe, keren juga yah kalo dipikir, so proud of you, my past self!)
Nah sekolah yang bertaraf internasional ini, pelajarannya (harapannya sih) bilingual. Pembelajaran pakai dua bahasa: bahasa indonesia dan bahasa inggris. Buku pelajarannya pun begitu: versi bilingual. Tapi pada praktiknya, guru mengajar dalam bahasa indonesia, textbook nya bilingual, latihan soal bilingual, soal ujiannya... agak lupa sih, tapi kayaknya ada yang full pakai bahasa inggris.
Selain ituuuu,
Sekolah yang tarafnya internasional itu, harapannya, kurikulumnya juga ngikut internasional (tapi bertahap, jadi kayak semacam adaptasi lokal plus internasional). Jujur dulu aku gak paham. Penjelasan sederhananya sih: SMA, tapi mau dibikin jadi kayak kuliah. Pakai sistem SKS / kredit per semester.
Tapi ya mana bisa dong? Kan SMA tuh kayak dah ada standarnya dalam setahun di kelas 1, 2, 3 dah ada silabus materi& capaian pembelajarannya mau yang kayak gimana. Ujug ujug mau dibikin sistem yang kayak anak kuliahan: ada mata kukiah wajib dan pilihan, lalu dalam 1 semester tuh bisa fokus menuntaskan pembelajaran satu mata pelajaran
Jadi contohnya:
Ada pelajaran biologi kelas 1. Materinya bab 1-12 yang dirancang pembelajarannya selesai dalam waktu 1 tahun
Tapi karena satu semester mau fokus ke mata pelajaran biologi aja,
1 semester (6 bulan), menyelesaikan materi biologi 12 bab
Yang artinya: dalam seminggu, jumlah frekuensi pelajaran biologinya bertambah.
Yang biasanya seminggu 6 jam pelajaran jadi 8 jam, atau bahkan jadi 10 jam pelajaran.
tujuan awalnya biar apa? Biar fokus.
tapi kekurangannya?
- adaptasi dari kurikulum ktsp belum sepenuhnya terbiasa sama sistem baru (berlaku buat siswa dan guru)
- BOSEN BANGET JUJUR, MUAKKK 😂
- karena materi 1 tahun diringkas harus selesai dalam 6 bulan -> kesannya, materinya terlalu banyak, siswa overwhelmed dan kelelahan.
Kacaw banget lah waktu itu.
Sudah lah masalah keluarga lagi ada di puncaknya, stres belajar tapi kayak mau cari support di keluarga tuh takut, takut membebani orang tua yang masalahnya sudah banyak :( temen di sekolah juga ndak cocok... plus mikir masa depan nih enaknya aku mau gimana ya? Belajar apa, kuliah jurusan apa, nanti kerja apa?
Aku jadi penyendiri :)
Introvert parah. Tapi ya teman, satu dua orang, ada lahhh
Dan mungkin karena lagi banyak masalah, rasanya tuh kayak pengen menghindar dari semua keramaian, nggak ingin berpartisipasi ke kegiatan sekolah di luar pembelajaran. Sekolahku dulu banyak bikin acara, banyak organisasi, banyak kegiatan. Aku tuh kayak gak pengen join itu semuaaaa just let me be in peace, please 😂
Karena keseharian ndak punya teman yang bisa mendengarkanku yapping, pelampiasannya ya di blog ini. :)
Jadi kalau lihat video, foto, atau hal-hal yang mengingatkan pada masa SMA, rasanya tuh campir aduk. Walau kata orang masa SMA tuh masa paling indah, buatku nggak seindah itu, yang aku ingat lebih banyak struggle nya.
Tapi gimana ya, aku nggak bisa sepenuhnya menyalahkan, atau menyesalinya. Sebagaimana masalah yang dihadapi seberat itu, sebanyak itu pula pelajaran berharga yang didapat. :)
Kalau aku ketemu sama diriku yang dulu, bisa saja cara pandang kami beda, cara merespon terhadap sesuatu juga beda. Aku adalah orang yang sama, tapi versi diriku di usia 17, beda dengan verdi diriku di usia 29.
Kadang jadi kayak merasa bersalah, mungkin saja aku secara nggak aku sadari pernah menyakiti orang lain, bukan karena bermaksud begitu, tapi nggak sadar aja, karena kondisi batin lagi nggak baik-baik aja.
But anyway, bukankah begitulah kehidupan?
Di setiap bab ada chapternya, jalan ceritanya, simpulannya, dan pelajarannya sendiri. Begitu pula kehidupan, di bab usia 17 dan bab usia 29, tentunya kisahnya berbeda.
Apa pun kisahnya, sudah menginjak bab berapa pun, aku harap, diriku tetap jadi orang yang baik, tidak melupakan bagaimana selayaknya manusia memanusiakan sesamanya, dan jadi seseorang yang penuh kasih dan rahmat ke makhluk hidup dan bumi tempat kita tinggal ini.
:)
Komentar
Posting Komentar